Polisi Tanpa Tilang, Aiptu Agus Dwi Santoso

Polisi Tanpa Tilang, Aiptu Agus Dwi Santoso

Modern ini, citra polisi di mata masyarakat Indonesia mempunyai reputasi yang kurang baik. Tak sedikit laporan warga baik di media sosial maupun dari mulut ke mulut tentang bagaimana oknum polisi terlibat dalam aksi yang memperburuk keadaan. Sebut saja pungutan liar akan penilangan, kekerasan, arogansi, hingga pemakaian obat-obatan terlarang.

Beberapa kali oknum tersebut di tangkap oleh temannya sendiri sesama polisi. Bahkan oknum pun ada yang mencari cara menambah “uang jajan” dengan memeras sipil. Terlebih keluhan masyarakat tentang “uang damai” yang terjadi apabila seorang sipil yang terkena tilang dan tak mau di proses sampai jalur hukum.

Tak dipungkiri memang tidak semua polisi termasuk polantas atau polisi lalu lintas berbuat seperti itu. Masih banyak polisi diluar sana yang berjiwa seperti semboyan polisi itu sendiri, “Abdi Utama Rakyat”. Yang betul-betul mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat artinya tidak memberikan ancaman atau tidak menakuti.
Polisi Tanpa Tilang, Aiptu Agus Dwi Santoso
Adalah Aiptu Agus Dwi Santoso, seorang polisi lalu lintas yang sudah berusia 58 tahun yang bertugas di Satlantas Polres Brebes. Sebentar lagi ia akan mengalami pensiun. Perawakan bersahaja dan sikapnya yang selalu menjaga integritas serta kejujuran selalu membuat anda angkat topi untuknya.

Setiap pagi mbah Agus, sapaan akrab orang sekitar kepadanya dengan setia membantu anak sekolah untuk menyebrang jalan di Klampok Brebes, Jawa Tengah. Mungkin terlihat sepele, namun tak jarang ada anak yang nakal saat disebrangkan malah lari mendahului. “Itu bikin deg-degan. Bikin sport jantung” kata mbah agus.

Karena jasanya menyebrangkan anak-anak, ia bahkan diberi insentif oleh para orang tua. Namun mbah Agus selalu menolak. Karena menganggap semua anak SD yang berada di lingkungan tugasnya adalah cucunya sendiri.

“Lah memang tugas saya. Ada orangtua yang mau beri insentif saya karena bantu anak-anak, saya bilang saja saya minta doa saja agar saya sehat dan selamat,” terang Agus.

Selain itu, mbah selalu mengatur lalu lintas di daerah sekitar sana. Tak sedikit pelanggaran yang terjadi saat ia bertugas, seperti tidak menggunakan helm, dan pelanggaran lainnya. Namun, mbah Agus tak serta merta langsung mengeluarkan surat tilang. Ia menegur dan memberi nasihat ke pelanggar tersebut. Saat pelanggar membandel, ia lantas memberinya surat tilang, namun ia selalu menolak apabila diberi “uang damai”.

“Biasanya soal helm. Sudah dinasihati masih nggak mau pakai helm,”. Bahkan saat ditanya tentang uang damai ia menjawab “Tapi buat apa? Saya takut nanti di alam kubur jadi gentayangan, saya takut nanti kehidupan di alam baka,”.
Polisi Tanpa Tilang, Aiptu Agus Dwi Santoso
Mbah Agus tidak mempunyai rumah. Selama ini ia tinggal di asrama polisi, namun jarang di tinggali. Mbah sering tidur di kantor polisi atau di mushola. Agus hidup sendiri karena sampai sekarang belum menikah. Namun, gajinya dipakai untuk menafkahi anak dari sahabatnya yang sudah menjadi yatim. Saat ini, anak tersebut sudah lulus kuliah, menikah dan sudah bekerja menjadi bidan. Dalam waktu dekat anak angkatnya akan segera melahirkan.

Untuk menambah biaya anak angkatnya saat kuliah, ia rela menjual sepeda dan mengambil pinjaman di bank yang langsung dipotong saat gajian. Setelah sepedanya dijual pun ia menggunakan motor inventaris kantor. Ia mengaku tak merasa iri dengan kawan-kawannya yang sudah bergelimpangan harta.

“Saya tidak iri mas mereka punya mobil, rumah mewah, saya tidak tergiur, biarin saja. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing. Saya sejak dahulu mikir bagaimana nanti kehidupan di alam baka,” urai dia.

Lalu setelah pensiun akan kemana mbah Agus? “Belum tahu mas, ya paling ikut sama anak angkat saya,” tegas dia.

Mbah Agus memiliki kakak dan adik kandung yang tinggal di Yogya dan Bandung. Kakak dan adiknya sudah punya anak-anak dan keluarga. Sudah lama dia tak bertemu mereka. Agus juga tak mau memberatkan.

Share this post

Post Comment