Suparlan, “Rambo” Asli dari Indonesia

Suparlan, “Rambo” Asli dari Indonesia

Sekilas bagi anda mungkin tak mengenal sosok Suparlan, bahkan mungkin langsung mencari tahu siapa itu Suparlan. Bagi masyarakat Bandung pun mungkin hanya sekedar tahu bahwa Suparlan adalah landasan terbang yang berada di Batujajar. Memang betul, landasan terbang itu memang bernama lapangan udara Suparlan.
Suparlan, "Rambo" Asli dari Indonesia
Namun tahukah anda siapa Suparlan itu? Suparlan ialah seorang prajurit biasa yang tergabung unit gabungan tentara Nanggala-LII Kopassandha dibawah komando Letnan Poniman Dasuki di Timor-timur saat pemberontakan marak terjadi.
Suparlan, "Rambo" Asli dari Indonesia
Menurut situs resmi Kopassus, gabungan tentara itu sedang melaksanakan patroli rutin di Distrik KV 34-34/Komplek Liasidi. Daerah ini dikenal akan rawan karena letaknya berada di dalam pedalaman serta menjadi basis utama pemberontakan Frentilin atau pergerakan militer terlatih di Timor Timur. tim patroli ini hanyalah pasukan yang memiliki kurang dari satu batalyon TNI.

Di tengah jalan, mereka di hadang oleh sekitar 300an pasukan Frentilin lengkap dengan persenjataan mulai dari senapan mesin hingga pelontar granat. Adu senapan yang tak seimbang pun terjadi, bahkan pasukan TNI ini tidak diuntungkan karena mereka di pinggir jurang, sementara lawannya berada di atas tebing sambil menembaki secara bebas.

Betul saja, satu per satu prajurit gugur dalam pertempuran sengit ini. Komandan regu pun mengambil keputusan bagi yang masih bertahan untuk mundur dan memerintahkan untuk meloloskan diri. Pasukan Frentilin membabi buta dan mendesak pasukan TNI hingga kewalahan.

Pratu Suparlan dengan jiwa patriotisme-nya langsung menggebu-gebu. Ia dengan sukarela akan berusaha untuk menghadang musuh yang mendekat dan meminta izin ke komandan.

Dengan gagah berani Pratu Suparlan membuang senapan yang sudah kehabisan amunisi dan berlari mengambil senapan mesin milik rekannya yang sudah gugur terlebih dahulu. Tak ada rasa takut Suparlan membabat habis pasukan Frentilin yang mendekat. Para pasukan pun menembaki Suparlan yang terbuka bebas, namun seakan kebal senjata, Suparlan malah membalas tembakan lawannya.

Lubang akibat senjata di tubuhnya seakan tak membuatnya menyerah begitu saja. Bahkan seragam loreng hijau kebanggaan TNInya berubah menjadi merah karena tetesan darah yang mengalir akibat tembakan. Layaknya kesetanan Pratu Suparlan malah maju menerjang ke tengah-tengah pasukan Frentilin. Harapan Frentilin hanyalah satu, yaitu melihat prajurit nekat itu tersungkur. Namun, bukannya tersungkur, Suparlan malah membabi buta menusukkan pisau komandonya ke anggota Frentilin.

Setidaknya ada 6 anggota Frentilin yang sudah merasakan tajamnya pisau komando Pratu Suparlan.

Di akhir titik maksimal kekuatannya, ia terduduk akibat kehabisan darah dan tak dapat menggenggam lagi pisaunya. Pasukan Frentilin pun mendekat untuk memastikan. Tak sampai disitu, Pratu Suparlan mengambil granat di kantong celananya dan segera mencabut pin serta melompat ke pasukan yang mendekat seraya mengucapkan “Allahu Akbar”. Ledakan dahsyat pun terjadi seiring tumbangnya pasukan Frentilin beserta prajurit heroik Pratu Suparlan.

Selepas aksi Suparlan, pasukan TNI yang tersisa 5 orang telah menguasai wilayah milik Frentilin. Mereka pun menghujani lawannya dengan peluru yang tepat sasaran ke arah masing-masing pasukan Frentilin. Tak lama kemudian, pasukan bantuan datang dan berhasil memukul mundur lawan.

Pertempuran sengit itu sampai malam hari. Bala bantuan mencari jasat yang gugur yang berjumlah tujuh orang dan menemukan Prajurit Satu Suparlan sudah tidak utuh lagi. Sedangkan pihak Frentilin berjumlah 83 orang gugur dan sisanya ditangkap hidup-hidup.
Suparlan, "Rambo" Asli dari Indonesia
Melihat keberanian, kecerdasan dan baktinya kepada negara, negara menganugerahi KPLB atau Kenaikan Pangkat Luar Biasa kepada Prajurit Suparlan satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula yaitu Kopda (Anm). Tanda jasa Bintang Sakti pun diberikan pada Kopda (Anm) Suparlan apda 13 April 1987, melalui Keppres No. 20/TK/TH 1987.

Share this post

Post Comment