Bu Risma “Jadi” Hijrah Ke Jakarta?

Bu Risma “Jadi” Hijrah Ke Jakarta?

Politik sulit di tebak dan tidak bisa diprediksi seperti sebuah skor bola. Tak ada yang mengetahui pasti skema yang di buat oleh salah satu parpol atau sekelompok elit politik. Terlalu percaya akan satu sumber akan membuat gelap mata karena politik mempunyai sisi yang berdampingan namun kadang bertolak belakang.

Yang sedang ramai diperbincangkan, Perhelatan pencalonan Gubernur Ibukota Indonesia, Daerah Khusus Ibukota Jakarta akan berlangsung tahun 2017 mendatang. Berbagai cara di lakukan, skema di jalankan, halangan bagi salah satu pihak diluncurkan. Namun, pelaku politik dan sejenisnya selalu bisa lolos dan memuluskan diri sendiri.

Ahok sempat di jegal oleh elit dengan mewajibkan mengumpulkan “dukungan” apabila ingin maju sebagai pemimpin Jakarta lewat jalur independen. Tak gentar, “masyarakat” lewat TemanAhok memberi simpati dengan sukarela mengumpulkan KTP demi lolosnya jagoan mereka. Betul saja, belakangan organisasi “non profit” ini berhasil mengumpulkan sekitar 1 juta KTP. Tentu ini sudah melebihi quota yang diminta lembaga terkait.

Lagi-lagi dinamika politik dimulai, sejumlah parpol langsung memberi simpati dan mendukung penuh pencalonan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ibarat terhipnotis, Ahok meng-iya-kan penawaran tersebut.

TemanAhok, yang awalnya membantu Ahok di jalur independent, malah mendukung penuh lewat jalur parpol. Skemanya, jalur independen akan terlebih dahulu dibuka pendaftaran baru menyusul jalur parpol. Apabila salah satu parpol pendukung Ahok mundur, gugurlah Ahok, sementara jalur independen sudah ditutup.

Beredar kabar, Ridwan Kamil, Walikota Bandung akan maju menuju DKI-1. Namun, dengan tegas ditolak oleh Walikota nyentrik ini.

Tak hanya itu, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini pun dikabarkan akan maju bersaing dengan Ahok dan Sandiaga Uno sebagai calon Gubernur DKI. Lagi-lagi ia menolak dan menyarankan agar meminta izin ke warga Surabaya dulu apabila ia maju.

Dalam pidato peluncuran Kampung KB di RW XII Sidotopo Jaya, Semampir (4-08-2016), ia malah meminta maaf dan mengucapkan bahwa ini adalah hari terakhirnya.

Nah lho?

“Ini adalah hari-hari terakhir, hari-hari penghabisan, oleh karena itu saya meminta maaf atas nama pribadi maupun semua pegawai dari kelurahan, kecamatan hingga para pegawai di SKPD Pemkot Surabaya. Mohon Maaf bila ada kekhilafan dan kesalahan saya selama ini” kira-kira ini adalah isi pidato yang ia ucapkan.

Saat dimintai keterangan pun bu Risma memilih diam dan tak memberikan komentar apapun. Isi yang ibaratnya meminta izin untuk pamit menimbulkan pertanyaan di benak masyarakat Surabaya yang begitu mencintai Bu Risma.

Perlu anda ketahui, Masa jabatan Risma masih panjang sekitar 3 tahun mendatang. Risma menang telak di kala pemilu Walikota 2015 silam saat presiden Joko Widodo menyerukan pemilu serentak.

Hal ini pun kembali memberi nuansa “dejavu” saat Jokowi mengucapkan tak akan mencalonkan dan meramaikan pesta pemilihan presiden Indonesia karena dirinya masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. Nyatanya? Parpol yang sama dengan bu Risma mencalonkan Jokowi dan menjadikan Jokowi menjadi Presiden Republik Indonesia.

Lalu? bagaimana pendapat anda? Ada indikasi “Ibu”?

Share this post

Post Comment