Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, Bupati Hebat Tanpa Pencitraan

Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, Bupati Hebat Tanpa Pencitraan

Di beberapa daerah di Indonesia, nampaknya tak banyak pemimpin yang mempunyai integritas tinggi seperti yang di harapkan oleh masyarakat. Tak ayal para pemimpin yang sudah memimpin beberapa lama hanyalah mencari keuntungan sendiri dan keuntungan orang terdekatnya. Ibarat seperti sebuah bisnis, para pemimpin daerah pasti harus mencari cara agar modal yang dipakai saat pemilihan silam bisa balik modal. Tak hanya balik modal, pasti mereka pun berusaha agar memiliki untung.
Bupati Hebat Tanpa Pencitraan
Namun bersyukur bagi beberapa daerah yang mempunya pemimpin bagus yang betul-betul berintegritas. Sebut saja Walikota Bandung, Ridwan Kamil, Atau Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Untuk sekelas kepala daerah tingkat provinsi, seperti Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dengan berbagai kontroversi namun membangun, dan Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi.

Pemimpin rendah hati

Satu sosok yang betul-betul luput dari media pemberitaan adalah Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr. Beliau adalah kepada daerah atau Bupati di Bantaeng, Sulawesi Selatan. Tak banyak orang mengetahui tentang sosok satu ini. Namun jika ditanya tentang sosoknya, masyarakat Bantaeng pasti dengan bangga menceritakan dengan bangga bagaimana orang nomor satu di Bantaeng ini. Ia tak sungkan sungkan mempersilahkan masuk bagi siapapun untuk masuk ke dalam rumah dinas atau rumah pribadinya tanpa protokoler yang sulit untuk ditembus.

Lepas shalat subuh, warga yang ingin bertemu Bupatinya dapat dengan mudah bertemu. Dengan bebas mereka singgah mampir baik itu ke rumah dinas atau rumah pribadinya. Entah itu bentuknya keluhan atau sekedar memberikan ide program pasti diterima dengan baik oleh Nurdin. Dengan sigap aduan dan gagasan yang diterimanya akan langsung diproses dengan melibatkan SKPD(Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait.

2008 silam, Nurdin memenangkan pemilukada dan menjadi seorang Bupati. Secara cepat ia blusukan ke kampung-kampung untuk menemui warganya. Mantan CEO di Jepang ini sangat dekat dengan masyarakatnya baik itu tua atau muda. Dengan sigap ia mencari tahu ujung permasalahannya dengan mencari tahu sendiri ke sumber. Tak memakan waktu lama setelah diketemukan biang masalah, ia langsung mengambil langkah dan fokus akan permasalahannya.

Yang unik, Nurdin melarang bagi kepala dinas untuk menggunakan sepatu pantofel mahal. Baginya kemewahan bukan caranya dan juga dirasa sayang saat sepatu mahal terkena lumpur. Untuk urusan mobil dinas, para kadis hanya dibekali mobil dinas Toyota Avanza, dan untuknya hanyalah Toyota Innova.
Bupati Hebat Tanpa Pencitraan

Niat untuk membangun

Bupati yang memegang teguh filosofi Jepang yakni, tak berbohong, disiplin, kata dan perbuatan yang sesuai ini berhasil membuat sistem pelayanan kesehatan yang baik. Hanya butuh sekitar 20 menit ketika pasien menelepon BSB(Brigade Siaga Bencana), dokter, perawat serta ambulan gratis akan menjemput dengan sigap. Dari informasi yang didapat, pasukan beranggotakan 20 dokter, 16 perawat dan 8 unit mobil ambulan emergency berhasil menurunkan angka kematian ibu melahirkan hingga 0 dari sebelumnya 12/100.000 kematian per tahun. Yang lebih takjub, Bupati Bantaeng ini berhasil meyakinkan pemerintah pusat untuk mengalirkan dana Rp. 120 milyar untuk pembangunan rumah sakit 8 tingkat berstandar internasional.

Mobil ambulan dan mobil damkar didapatkan dari hubungan baiknya dengan dunia luar, terutama Jepang. 8 unit ambulan dan damkan didapatnya dari Jepang ,negara tempat dulunya ia bekerja. Berkat sistem adaptasi Jepang, BSB masuk nominasi United Nations Public Service Award di bawah PBB. BSB ditunjuk oleh Kementrian Pemberdayaan Aparatur Negara mewakili Indonesia. Belau bercita-cita untuk menjadikan Bantaeng sebagai “Singapura”nya Indonesia. Hal ini diawali dengan cara memindahkan pusat pemerintahan di daerah pantai.

Segala sektor mulai dibenahi oleh Bupati kelahiran 7 februari 1963 ini. Salah satunya adalah yang cocok dengan gelarnya, yaitu bagian agrikultural. Ia berhasil memfokuskan bagian ini dengan baik. Terbukti lewat sektor pertanian dan perkebunan, ia berhasil menaikkan indeks pendapatan perkapita dari awalnya Rp 5 juta menjadi Rp. 14,7 juta.

Untuk masalah banjir pun ia tergolong sukses mengurai permasalahannya. Awal ia menjabat, rumah dinasnya acap kali terkena banjir. Target dalam 2 tahun untuk mengatasi banjir pun berhasil ia capai. Saat hujan deras, Nurdin tak sungkan menyusuri anak sungai hingga 6 jam untuk mencari biang keladi permasalahan banjir. Setelah didapati ujung permasalahan, ia membuat dam seluas 5 Ha. Dari awal pembangunan ia selalu memantau langsung, bahkan ketika hujan turun, ia selalu singgah untuk melihat kemajuan. Hasilnya adalah, dam ini berhasil mengatasi banjir dan menjadi sumber air bagi PDAM Bantaeng serta menjadi irigasi untuk pertanian dan perkebunan.

Ia selalu serius dalam menjalani jabatannya sebagai Bupati. Karena ia sangat berharap camat dan lurah bisa menjadi mitranya untuk melayani masyarakat. “Saya selalu sampaikan, ini masalah keteladanan. Sebagai pemimpin, selalulah memberikan contoh terbaik” ucap dia.

Berbagai investor asing pun tak dibuat kesusahan dengan sistem 1 hari selesai. Ia merampingkan prosedur yang rumit agar selesai dalam waktu satu hari dan menjamin tak ada pungutan apapun. Investor yang ingin menanam modal di Bantaeng akan dijemput di bandara dan langsung diantar ke Bantaeng.

Sebelum Jokowi menganut lelang jabatan di Jakarta silam, Nurdin telah mengaplikasikannya. Terbukti aparatur negara yang terpilih jauh dari kata-kata korupsi.

Lebih dari 50 penghargaan diraihnya karena profesional dalam bekerja di Bantaeng selama 6 tahun. Baginya, penghargaan seperti itu tak menjadi acuan untuk lebih baik. Namun niatnya untuk membangun Bantaeng lebih baik. Karena penghargaan haruslah dibarengi dengan karya nyata yang betul-betul dirasakan warganya.

Kabar terakhir, Nama Nurdin Abdullah termasuk dalam 19 tokoh alternatif oleh Komunike Bangsa Peduli Bangsa(KBPI). Namanya sejajar dengan Jusuf Kalla, Khofifah Indar Parawansa, Chairul Tanjung, Ridwan Kamil dan Tri Rismaharini sebagai figur capres alternatif.

Mari kita doakan semoga semakin banyak pemimpin yang betul-betul mementingkan kepentingan rakyat tanpa harus embel-embel apapun.

Share this post

Post Comment