Pak Ogah Taman Pancing, Sukarelawan Tanpa Pamrih

Pak Ogah Taman Pancing, Sukarelawan Tanpa Pamrih

Untuk anda yang pernah berlibur ke Bali atau bahkan tinggal di Bali mungkin kenal dengan sosok satu ini. Dengan perut besarnya, celana 3/4 nya, memakai baju hitam atau bahkan tak memakai baju sama sekali, dan topi kupluk hitam. Dia adalah pria yang disebut warga sekitar sebagai Pak Ogah Taman Pancing. Walaupun disebut pak ogah, namun ia tak pernah memungut uang atas apa yang di kerjakannya.

Datang pertama kali pada 12 April 2012, ia hanya bermodalkan Rp 80 ribu. Dengan uang itu ia berusaha dicukup-cukupin. Terkadang hanya makan nasi jinggo di bagi tiga, pagi, siang, sore. Ia mengaku sulit untuk mencari pekerjaan dan akhirnya hanya sebagai pemulung disana.

Di masa keputus-asaannya, ia memulai pekerjaan mulia sebagai sukarelawan. Ia memulai perjalanannya dengan mengatur lalu lintas di sekitaran taman pancing. Beberapa kali ia diberi uang namun ditolaknya. Ia mengaku hanya sebagai masyarakat yang bersedia membantu yang lain.

Pria yang enggan menyebutkan namanya ini pun mempunyai usul untuk membuka kursus musik gratis bagi kalangan tidak mampu. Beberapa sukarelawan yang setuju dengan usul tersebut dengan senang hati menjadi pengajar disana. Namun belakangan pak ogah merasa kecewa karna semua guru sukarelawan pergi satu persatu.

Tak sampai disitu, mengusung tema makanan untuk semua kalangan ia membuka “Warung Makan 100% Gratis, 100% Halal Untuk Semua Agama”. Warungnya terletak di samping toko musik yang ia buat. Semua yang mampir atau makan di warung tersebut bebas membayar semaunya dan sepuasnya.

Lagi-lagi warung yang ia buka membuat dirinya agak kecewa, karena di awal pembukaan banyak yang membayar, namun belakangan malah tak ada yang membayar sama sekali. Namun sekali lagi pak ogah menganggap itu adalah amalan dirinya.

Pak Ogah Taman Pancing
Pak Ogah Taman Pancing

Ia kerap kali menambal jalan yang bolong, menanam tanaman agar Bali lebih hijau, membuat papan nama jalan. Itu semua dilakukannya dengan usaha dan kerja kerasnya sendiri, yang berarti dari uangnya pribadi hasil penjualan gitar dan alat-alat musik.

Sudah tak bisa dihitung lagi berapa banyak uang yang ia keluarkan hanya untuk mengabdikan diri di sekitar jalan taman pancing dan sekitarnya. Kira-kira sudah 2.000 papan penunjuk nama jalan telah dibuat, ratusan jalan bolong ia tambal, dan ratusan alat musik diberikan oleh pak ogah ini.

Di Bali, ia pun kerap mengeluarkan pendapatnya di PB3AS atau Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja. Ini adalah sebuah podium yang disediakan pemerintah untuk para masyarakat bebas berbicara dan berorasi tentang apapun kepada khalayak luas dan pemerintah pada khususnya.

Pada awalnya ia tak mempunyai tempat tinggal yang artinya ia tidur dimanapun dan kapanpun. Namun belakangan, ia mempunyai kontrakan kecil yang murah untuk tempatnya menginap.

Pak Ogah Taman Pancing

Bahkan sewaktu pemberitaan heboh tentang Engeline yang dibunuh dan dikubur secara sadis oleh ibu tirinya, ia menaruh beberapa alat musik yang ditujukan ke Engeline.

Mari kita doakan agar “virus” keikhlasan dan “wabah” kemasyarakatannya menyebar luas ke seluruh Indonesia. Dan mudah-mudahan pak ogah taman pancing selalu diberikan kesehatan.

Share this post

Post Comment